Sabtu, 19 Januari 2013

China, Kekuatan Udara Baru di Dunia

Formasi Pesawat Tempur J-11 China
Formasi Pesawat Tempur J-11 China. (Foto: Topwalls.net)
ARTILERI - Sebuah visi yang jelas dan program jangka panjang untuk modernisasi militer, didukung oleh kemampuan industri pertahanan yang kuat dan inovatif, telah mengubah Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat China (Peoples Liberation Army Air Force/PLAAF) dari yang awalnya kuno, kolot, dan tidak terlatih, menjadi kekuatan udara modern dengan kemampuan yang baik untuk menjalankan semua misi-misi modern di abad 21.
Pondasi dari rencana jangka panjang program modernisasi Angkatan Udara China telah dibebankan pada tahun 2010, dan ditujukan untuk mencapai kemajuan besar pada tahun 2020. Untuk tahun 2010, China telah meletakkan pondasi dasar yang kuat untuk Angkatan Udaranya, ini ditunjukkan dalam latihan skala besar dengan sandi "Stride-2009" yang diselenggarakan bertepatan dengan perayaan 50 tahun kekuasaan komunis di China. Lima puluh ribu prajurit telah dimobilisasi secara besar-besaran dari tempat latihan mereka ke daerah-daerah yang tidak biasa bagi mereka.

Kekuatan Udara Baru Telah Muncul di Dunia

Pada tahun 1999, Angkatan Udara China mengoperasikan lebih dari 3.500 pesawat tempur yang terdiri dari J-6 (sekelas MiG-19) dan J-7 (desain berdasarkan MiG-21). Kesepakatan dengan Rusia adalah induksi untuk 100 Sukhoi Su-27 fighter. Angkatan Udara China juga memiliki armada pesawat bomber (pembom) H-6 (desain berdasarkan Tu-16).
Modernisasi Angkatan Udara China didorong oleh pertumbuhan ekonomi China yang luar biasa. Di abad ke-21 ini, dunia telah menyaksikan akuisisi China atas 105 Sukhoi Su-30MKK (2000-2003) dan 100 upgrade Sukhoi Su-30MKK2 (2004). China juga telah memproduksi lebih dari 200 pesawat tempur J-11s dari tahun 2002 dan hingga saat ini. Angkatan Udara China juga membeli total 126 Sukhoi Su-27SK/UBK dalam tiga batch pengiriman. Produksi pesawat tempur J-10 dimulai pada tahun 2002 dan 1200 berada dalam order. Pesawat bomber H-6 (Tu-16 Badger) dikonversi menjadi pesawat terbang pengisian bahan bakar.
Pada tahun 2005, Angkatan Udara China mengumumkan rencana untuk mengakuisisi 70 pesawat angkut (airlifter) Ilyushin Il-76 dan 30 pesawat tanker Ilyushin Il-78 yang secara signifikan akan meningkatkan kemampuan airlift strategis dan memberikan kemampuan tempur dalam waktu yang lama bagi Angkatan Udara China. Departemen Pertahanan AS telah melaporkan bahwa Su-27 SKS China diupgrade menjadi Sukhoi Su-27 SMK multirole (multiperan).

H-6 Bomber
H-6 Bomber
China juga sedang mengorganisir combat air wing untuk satuan kapal induk di masa depan, mungkin J-15 dan atau opsi lainnya Sukhoi Su-33, yang merupakan varian kapal induk dari keluarga Su-27. Banyak fighter di China yang diupgrade, sebagian untuk fungsi night maritime strike, yang memungkinkan bisa mengangkut senjata buatan Rusia, termasuk rudal jelajah Kh-31A anti-radiasi dan amunisi KAB-500 kawal-laser.
China juga mengembangkan pesawat misi khusus, yaitu KJ-2000 AWACS yang didesain berdasarkan platform Il-76. Pesawat angkut Y-8 sedang dimodifikasi untuk melakukan berbagai peran Airborne Battlefield Command, AEW dan pengumpulan data intelijen. JH-7/7A akan menjadi tulang punggung kekuatan serangan presisi dengan sejumlah besar J-10 dan J-11 untuk peran superioritas udara. Peran interceptor akan dilakukan oleh JF-17 yang sekarang berada di bawah produksi China. Belum lagi yang terbaru adalah J-20 dan J-31, keduanya di klaim China sebagai fighter siluman.
Untuk kekuatan transportasi, China akan memiliki pesawat Il-76, Il-78, Y-9 dan tentunya yang terbaru adalah si bongsor Y-20, kemungkinan Y-20 lah yang sempat membuat kaget media barat dari hasil foto satelit terhadap salah satu aktivitas di pangkalan udara China. China juga memiliki berbagai helikopter dan pesawat lainnya untuk melakukan misi khusus dan tugas-tugas rutin. Dengan berkembangnya C4ISR (Command, Control, Communications, Computers, Intelligence, Surveillance and Reconnaissance), militer China akan menjadi kekuatan yang tangguh untuk diperhitungkan bahkan oleh musuh yang siap sekalipun. Dalam proses modernisasi, Angkatan Udara China telah meningkat secara eksponensial, meskipun belum diuji dalam pertempuran/operasi yang sesungguhnya.

Pengklasifikasian Pesawat

Angkatan Udara China mengklasifikasikan pesawat-pesawatnya dengan kode-kode tertentu. Yaitu :
  • "J" untuk pesawat fighter
  • "Q" untuk pesawat ground combat (serangan darat)
  • "H" untuk pesawat bomber
  • "JH" untuk pesawat tempur-bomber
  • "Y" untuk pesawat transportasi
  • "JZ" untuk pesawat pengintai dan 
  • "Z" untuk helikopter
China juga meluncurkan pesawat tempur generasi kelima, J-20 dan J-31 dalam rentang waktu yang tidak lama, yang merupakan sebuah langkah besar dalam evolusi industri kedirgantaraan China. Kedua pesawat baru ini mmiliki fitur stealth (siluman), sekaligus menunjukkan tekad pada diri China untuk membentuk kemampuan militer baru di masa depan.
China berinvestasi secara signifikan di sektor kedirgantaraan dan manfaatnya sudah terlihat sekarang. Kemajuan telah jauh lebih cepat dari yang diperkirakan oleh analis Barat. Pertumbuhan ekonomi China yang fenomenal meningkatkan investasi dalam inovasi dan hasilnya akan bahwa pada tahun 2020 atau lebih China akan menjadi pusat inovasi dunia yang paling penting, menyalip AS dan Jepang.

Sejarah Industri Kedirgantaraan China

Sebuah sejarah singkat yang menyangkut pertumbuhan industri kedirgantaraan China akan mengungkapkan bagaimana transformasi China ini dicapai. Awalnya, Uni Soviet memberikan bantuan kepada Angkatan Udara China di awal 1950-an dengan membantu mendirikan fasilitas produksi pesawatnya. Pilot-pilot Angkatan Udara China juga dilatih dengan taktik Soviet dan beberapa dari mereka juga turut ambil bagian dalam Perang Korea melawan USAF (Angkatan Udara AS).
Pada akhir 1950-an, pabrik-pabrik perakitan pesawat China (di bawah lisensi Uni Soviet) mulai merakit pesawat dalam jumlah yang besar. Pesawat-pesawat yang dirakit adalah J-2 (MiG-15), J-4 (MiG-15bis), J-5 (MiG-17) dan J-6 (MiG-19).

J-20
J-20 (Foto:Noua/resboiu.wordpress.com)
Putusnya hubungan dengan Uni Soviet merupakan pukulan telak bagi China. Industri pesawat terbang China nyaris hancur. Namun, secara bertahap industri kedirgantaraan China mulai pulih pada tahun 1965 dan China memproduksi pesawat tempur pertama mereka, J-8, berdasarkan penggabungan desain pesawat-pesawat Uni Soviet.
Modernisasi Angkatan Udara China kala itu juga tersendat-sendat akibat prioritas anggaran China yang lebih condong mendukung pasukan rudal dan nuklir China. Memanfaatkan celah antara Uni Soviet dan China, negara-negara Barat mulai memberikan bantuan untuk Angkatan Udara China pada akhir 1980-an. Avionik barat diaplikasikan ke J-7 (copy dari MiG-21), J-8 dan A-5 ground attack fighter.
Teknologi barat juga turut andil dalam pengembangan bomber B-6D, rudal SAM HQ-2j high altitude dan rudal anti-kapal C-601 yang diluncurkan dari udara. Bantuan dari Barat akhirnya berakhir pada tahun 1989 akibat tindakan keras China terhadap demonstran dalam sebuah insiden terkenal "Lapangan Tianamen."
Runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991 terbukti menjadi berkah bagi China dan Angkatan Udaranya. Akibat pecahnya Uni Soviet, banyak ilmuwan Uni Soviet yang mencari penghidupan baru, insinyur dan teknisi dari bekas Uni Soviet akhirnya menemukan tempatnya di kompleks industri militer China. Selain itu, industri pesawat Rusia kala itu tengah berjuang untuk bertahan hidup. Rusia bahkan lebih dari bersedia untuk menjual pesawat modern dan teknologi ke China. Dan perekonomian China yang mumpuni mampu mengimpor semua yang terbaik yang ditawarkan Rusia.

Pesawat dan Helikopter Produksi Dalam Negeri China

Saat ini, Aviation Industry Corporation China telah menjadi memayungi sejumlah besar perusahaan yang bergerak dalam produksi pesawat dan peralatan yang terkait.
Changhe Aircraft Industry Corporation
Didedikasikan untuk membuat helikopter dan menghasilkan helikopter serang WZ-10, heli transportasi kelas berat Z-8, CA-9 Utility, Z11J dan helikopter Utilitas ringan Z-11.
Chengdu Aircraft Industry Corporation
Menghasilkan pesawat latih dasar JJ-5 (diekspor dengan nama FT-5), pesawat interceptor ringan J-7, pesawat tempur FC-1/J-17 Thunder multi-peran, pesawat tempur J-10 multi-peran, dan pesawat tempur generasi keilima J-20 dengan kemampuan siluman.
Hongdu Aviation Industry Group
Mengkhususkan diri dalam pesawat latih, menghasilkan pesawat latih utama CJ-5 dua-kursi, CJ-6 latih dasar dan lanjutan, K-8 latih dasar, JL-8 dan pesawat latih supersonik L-15.
Guizhou Aircraft Industry Corporation
Menghasilkan pesawat latih JL-9 (MiG-21U) dan sejumlah UAV.
Harbin Aircraft Manufacturing Corporation
Membuat helikopter Z-5, Z-9, Z-9W/G, Zhi-15 dan HC-120.
Shaanxi Aircraft Corporation
Memproduksi pesawat angkut dan membuat varian Y-8 (berdasarkan AN-12), Y-9 yang kemampuannya bisa disandingkan dengan Hercules C-130J, Y-7 dan Y-20 pesawat dukungan taktis dengan empat mesin.
Shenyang Aircraft Corporation
Menghasilkan J-8, J-11 (varian Su-27), pesawat tempur J-15 varian kapal induk tempur didasarkan pada Su-33 dan J-XX (disebut-sebut J-31) generasi kelima pesawat tempur yang sedang dikembangkan. Juga menghasilkan J-20 , H-6 bomber (Tu-16 Badger) dan beberapa UAV.
Xi’an Aircraft Industrial Corporation
Membuat pesawat H-8 bomber strategis kelas berat dan JH-7 tempur-bomber bermesin ganda.
Selain itu, ada sejumlah besar pabrik-pabrik China yang ikut dalam pembuatan pesawat komersial sipil. Banyak produsen raksasa asing seperti Boeing, Airbus dan Eurocopter mendapatkan keuntungan untuk melakukan outsourcing sebagian atau produksi yang lengkap dari pabrik-pabrik China. Ini membantu industri kedirgantaraan China untuk menyerap teknologi baru.

Pelatihan Pilot di Angkatan Udara China

Telah ada peningkatan kualitatif dalam filsafat pelatihan dan operasional dalam tubuh Angkatan Udara China. Pelatihan pilot berlangsung selama empat tahun dan dibagi menjadi dua tahap yang berbeda. Tahap pertama berlangsung selama 20 bulan di salah satu dari dua sekolah dasar terbang yaitu Changchun dan Banding. Terdiri dari pelatihan militer, politik, budaya/sastra, dan fisik, serta pelatihan parasut. Tahap kedua berlangsung 28 bulan di salah satu dari sepuluh akademi terbang, masing-masing memiliki resimen terbang 3-4 dan utamanya terdiri dari pelatihan teknis khusus.
Untuk pelatihan tahap kedua, lima bulan pertama diajarkan teori penerbangan, politik, navigasi, aerodinamis, senjata udara-ke-udara, struktur pesawat, dinamika penerbangan, mesin pesawat, instrumen, cuaca, dan terjun payung praktis, serta pelatihan komando, kontrol, dan ilmu pengetahuan. Satu tahun berikutnya, pelatihan dengan 155 jam terbang dengan menggunakan pesawat latih utama CJ-6. Enam penidikan yang diajarkan, antara lain aerobatik, navigasi, dan formasi, sirkuit, dan instrumen terbang. Biasanya 30 persen siswa gugur dalam fase ini.

Heli Serang WZ-10
Heli Serang WZ-10 (Foto:thebrigade.thechive.com)
Satu tahun di akhir pelatihan (pelatihan lanjutan), terdiri dari 130 jam terbang dengan menggunakan F-5. Latihan menyerang, navigasi, sirkuit, formasi, aerobatik, dan instrumen terbang, serta berpartisipasi dalam latihan perang. Fase ini memiliki tingkat gugur sepuluh persen. Total tingkat gugur siswa selama tiga fase di tahap kedua adalah 55 persen.
Lulusan akan menerima gelar dalam ilmu militer dan berstatus Deputy Company Pilot Officer. Lulusan dapat menjadi Company Grade Officers. Mereka yang gagal, diberi kesempatan untuk melatih di sekolah yang ditunjuk sebagai Ground Support Officers.
Angkatan Udara China juga telah menetapkan batas usia untuk pilot-pilotnya. Setelah pilot telah mencapai batas usia atau gagal memenuhi kualifikasi medis, terbangnya dihentikan. Salah satu masalah yang paling umum adalah bahwa Angkatan Udara China belum memiliki mekanisme untuk menyerap pilot yang dipensiunkan untuk bertugas di tugas non-terbang.
Batas usia yang ditetapkan adalah 43-45 tahun untuk pilot pesawat tempur (usia rata-rata saat ini adalah 28), 48-50 tahun untuk pilot bomber, 55 tahun untuk pilot pesawat transportasi, 47-50 tahun untuk pilot helikopter dan 48 tahun untuk pilot wanita. (FS)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar